Kotak, Korea-Batak

1

By Ibu Eva Latifah

Hai pembaca Tenasia.

Apa kabar semua? Sudah beberapa edisi belakangan ini, kita terus membahas perbandingan Korea dengan beberapa suku di Indonesia. Sudah bosankah? Semoga tidak ya. Karena ada beberapa pembaca setia Ten Indonesia yang memberi komentar dan meminta saya untuk menulis tentang persamaan antara Korea dan Batak. Dalam bahasa saya, Kotak atau Korea-Batak ^^*.

Saya memang sudah lama ingin menulis tentang Kotak alias Korea-Batak. Bukan, bukan untuk mengkotak-kotakkan Korea dengan Indonesia. Akan tetapi, justru untuk meletakkan Korea dan Indonesia dalam satu kotak yang sama. Karena sebenarnya memang banyak persamaan kedua negara ini. Dengan adanya kesamaan budaya dan atau bahasa, ini berarti kita satu kotak. Tidak ada yang lebih dari yang lain. Setuju? Jadi, kalau ada yang merasa dirinya atau negaranya lebih baik, berarti dia belum belajar berbudaya dan mungkin belum menjadi pembaca setia tenasia ahaha.

Kembali lagi ke soal Kotak. Ide tentang kotak sudah lama ingin saya tulis karena kakak ipar saya adalah orang Batak. Abang Tarigan adalah satu-satunya orang Batak di keluarga inti kami hihi (halo abang… tos dulu ah). Dari sini, saya melihat bahwa meski ada perbedaan antara budaya Sunda dan Batak, kami bisa saling menghargai dan hidup damai. Malah kakak saya sekarang lebih Batak dari abang saya haha.. Lewat  interaksi secara dekat dengan abang, saya menemukan ada banyak kesamaan antara budaya Korea dan Batak. Rasanya sayang kalau tidak dituliskan.

Tulisan terdahulu

What South Korean high school students carry in their backpacks may  surprise you — Quartz
Sumber: Quartz

Sebelum mengedit draft tulisan, untungnya saya sempat berselancar di internet untuk mencari informasi apakah sudah ada tulisan yang membahas topik ini. Ternyata sudah ada dua tulisan terdahulu. Serunya, ada beberapa poin yang ternyata sama. Saat menemukan data ini, tentu saya kaget sekaligus senang. Kaget karena ternyata ada juga yang berpendapat sama. Senang karena berarti apa yang menjadi catatan dalam draft tulisan saya bukan hanya khayalan semata. Karena sudah ada yang lebih dulu menulis, saya perlu memutar haluan ke sisi yang belum dibahas yang lain, biar ga basi.

Setidaknya ada dua tulisan terdahulu yang menulis tentang persamaan Korea dan Batak, satu di sebuah blog dan satunya lagi dalam rubrik kompasiana. Sonia (2012) di blog pribadinya mencatatkan persamaan Korea dan Batak  dalam hal bersuara keras, suka makan daging babi, persamaan kata “Aigoo” bahasa Korea dengan “agoo” di bahasa Batak, bentuk rahang, dan soal marga. Gultom (2020) menulis bahwa kesamaan Korea dan Batak itu ada pada budaya patriarki, marga, budaya menghormati orang tua, panggilan beragam di keluarga, soal pendidikan, menunda pernikahan sebelum mapan, suka makanan pedas, bersuara keras, dan perempuan tangguh.

Dalam tulisan kali ini, saya akan mengkotakkan tulisan saya pada lima hal yang belum disebutkan pada dua tulisan di atas. Lima Kotak yang juga penting dan menarik untuk dibuka, tentunya. Persamaan yang hendak dibahas kali ini adalah mentalitas, tradisi pesta dan menari, berkumpul keluarga, budaya minum, dan upacara kematian di dalam budaya Korea dan Batak. Tulisan ini diharapkan menambah wawasan tentang Korea-Indonesia sekaligus memenuhi permintaan pembaca setia Ten Indonesia sebagai rasa terima kasih untuk usulannya. Saranghaeyo~

Kesamaan mental

Korea, Indonesia strengthen cooperation in forest industry
Sumber: Koreaherald.com / http://www.koreaherald.com/view.php?ud=20151029001336

Satu mentalitas yang mencirikan orang Korea dan Batak adalah mentalitas baja. Baik orang Korea maupun Batak sama-sama pantang menyerah, bahkan cenderung nekad. Saya jadi teringat cerita orang-orang Korea generasi pertama yang datang ke Indonesia tanpa tahu apa-apa. Tidak bisa bahasa Indonesia. Tidak terlalu paham budaya Indonesia. Tetapi mereka berani datang ke Indonesia dan bahkan masuk ke hutan-hutan. Bayangkan! Orang asing yang tidak menguasai bahasa Indonesia langsung datang ke pedalaman. Generasi pertama ini berhasil membuktikan bahwa faktor yang menentukan keberhasilan seseorang adalah keberanian dan pantang menyerah. Para generasi awal ini bahkan ada beberapa yang akhirnya jatuh cinta pada Indonesia dan memilih pindah kewarganegaraan menjadi WNI. Mentalitas tahan banting tadi mirip sekali dengan sikap keberanian yang dinasehatkan abang saya. Moto yang pernah saya dengar adalah “Kau punya mata, lihat. Kau punya telinga, dengar. Kau punya mulut, tanya.”  Intinya jangan pernah takut untuk melakukan sesuatu. Bahkan bila kita harus ke tempat yang kita tidak tahu sama sekali. Mentalitas yang perlu ditiru oleh generasi muda Indonesia, ya.

Suka Pesta dan Menari

Mangulosi (Pesta Adat Batak) Pakai Lagu Entah Apa yang Merasukimu - Halaman  all - Tribun Medan
Sumber: Medan Tribun

Dalam buku A History of Korean Literature, Lee Sunny (2012) menulis istilah 원시종합예술 (dibaca: wonsi jonghab yesul) yang artinya Seni Klasik Terpadu. Istilah ini dipakai untuk menyebut kebiasaan orang Korea sejak jaman primitif dalam hal kebiasaan bernyanyi dan menari. Pada saat itu, seni sastra, seni tari, dan seni musik belumlah dikotak-kotakkan secara terpisah seperti sekarang. Saat mereka berkumpul, terutama dalam rangka berdoa agar panen dapat menghasilkan, mereka akan bernyanyi (ada unsur music/nada dan sastra di liriknya) dan bergerak (seni tari dan drama). Dari Seni Klasik Terpadu ini dapat kita lihat kalau orang Korea sejak jaman dahulu tidak dapat lepas dari menyanyi, menari dan melakukan pertunjukan. Kesukaan Korea terhadap seni, seperti yang terlihat dalam K-Pop dan Hallyu-nya, ternyata sudah ada sejak dahulu kala. Kesukaan terhadap seni, khususnya menyanyi ini mirip dengan budaya Batak. Dalam banyak kesempatan, orang Batak akan menyanyi. Seperti keluarga abang yang dalam acara keluarga sering menggunakan organ tunggal dan gitar untuk bernyanyi bersama. Di dalam cafenya pun ada tempat untuk live music yang sering juga disiarkan via facebook. Budaya menyanyi-menari di Kotak ternyata sebelas dua belas, ya.

Suka Berkumpul Kerabat

Sebenarnya tradisi kumpul bersama keluarga tidak dapat dilepaskan dari tradisi komunal negara-negara Asia. Di Indonesia, salah satu yang cukup kuat ikatan kekerabatannya adalah Batak (meski yang lain juga punya tradisi berkumpul dengan keluarga besar, tetapi stereotipe kekerabatan yang kuat ada pada Batak karena salah satunya diikat oleh adat yang kuat dan ikatan marga). Budaya kumpul bersama keluarga besar menjadi ciri pengikat. Di Korea, ada juga tradisi berkumpul dengan keluarga besar. Meski kekerapannya tidak seperti tradisi Batak, orang Korea juga suka berkumpul untuk merayakan sesuatu seperti saat Kimjang, Chuseok, Seollal, pernikahan dan atau upacara kematian. Kebiasaan berkumpul dan makan bersama keluarga juga bisa dilihat di dalam drama-drama Korea, seperti drama Homemade Love Story yang baru berakhir beberapa waktu lalu.

Minuman Tuak Tradisional

Ternyata Ini Rahasia Citarasa Minuman Tuak
Tuak / sumber: Kabar Center

Selain dua kesamaan di atas, ternyata Korea dan Batak juga punya minuman tradisional beralkohol yang mirip lho. Tapi buat yang muslim, gak boleh coba ya. Di Korea, minuman tradisional yang mirip tuak ala Batak itu bernama 막걸리(Makgeolli). Seperti yang sering terlihat di dalam Drakor, Korea termasuk salah satu negara yang mempunyai tradisi minum yang kuat. Makgeolli dihasilkan dari fermentasi air kukusan beras. Warnanya putih susu dan agak keruh karena ampas berasnya memang sengaja tidak disaring. Tuak medan juga terbuat dari fermentasi beras, meski ada juga yang terbuat dari fermentasi air nira.

What Is Makgeolli and How to Use It in Cocktails
Makgeolli / Sumber: Liquor.com

Kesamaan dari tradisi minum ini adalah bukan hanya soal bentuk dan proses pembuatan Makgeolli atau tuak. Dalam cara minumnya pun sama. Baik Makgeolli maupun Tuak sama-sama diminum bersama-sama. Tidak sendiri. Kebiasaan ini berakar dari tradisi untuk kumpul bersama, seperti yang sudah dibahas di atas. Bagi orang Korea, minum menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan orang lain. Di pedesaan Korea, para ajossi dan ajumma berkumpul dan minum Makgeolli bersama. Di kota pun masih dapat mudah ditemukan tempat khusus untuk minum Makgeolli. Biasanya Makgeolli dijual di 파전집(pajeon jib) atau restoran yang menjual Pajeon. Pajeon adalah panekuk ala Korea yang terdiri dari daun bawang dan seafood, mirip dengan martabak seafood. Nah, Pajeon adalah안주(anju) atau makanan yang dihidangkan untuk dikonsumsi bersama minuman beralkohol, khususnya Makkeolli. Di dekat stasiun Hoegi, kampus Kyung Hee, ada restoran Pajeon yang enak sekali. Saya sering ke sana hanya untuk membeli Pajeon. Seringkali pemilik rumah makan tidak menerima kami (yang tidak minum Makgeolli) karena memang tujuan utamanya adalah untuk dijual bersama Makkeolli. Kalau sedang beruntung, karena tidak banyak tamu, kami diterima juga walau dengan tatapan aneh karena menjadi satu-satunya tamu yang di mejanya tidak ada Makgeolli hihi. Tapi Pajeon di resto ini memang benar-benar enak jadi saya tidak kapok walau pernah ditolak ㅋㅋㅋ

Bila dahulu Makgeolli identik dengan minuman ajusshi atau orang tua, saat ini ada banyak “kampanye” untuk mengubah imej minuman Makgeolli. Makgeolli mulai ditampilkan sebagai minuman yang juga cocok untuk anak muda. “Kampanye” tersembunyi itu dapat dilihat di drama-drama yang menunjukkan seen anak muda yang minum Makgeolli.

Upacara Kematian

Hal menarik terakhir yang ingin saya bagikan soal persamaan budaya Korea dan Batak adalah persamaan dalam upacara kematian. Baik di Korea maupun di Batak, biasanya jenazah tidak langsung dikubur, tetapi disemayamkan selama tiga sampai beberapa hari. Saat ini, sudah jarang yang menyemayamkan jenazah di rumahnya. Biasanya jenazah disemayamkan di 장례식장 (jangnaesikjang) yang umumnya ada di lingkungan rumah sakit.

Selain itu, dalam upacara kematian di Korea dan Batak ada tradisi untuk meratapi jenazah. Di dalam budaya Batak, tradisi meratapi jenazah disebut Adung-adung atau Mengandungi. Mengandungi adalah tradisi menangisi jenazah sambil mengeluarkan kata-kata ratapan atau bahkan ada yang sambil bersenandung. Di Korea, tradisi tersebut disebut dengan 곡 (gok). Gok dalam bahasa Korea dapat berarti “lagu”, bisa juga berarti “tangisan” atau “ratapan.” Sama seperti dalam tradisi Batak, tujuan dari Gok adalah untuk meratapi kematian. Yang diratapi biasanya soal kedekatan atau kenangan dengan almarhum. Dalam budaya Korea, orang yang meninggal harus ditangisi dengan meraung-raung. Semakin kencang raungannya semakin tinggi rasa kehilangan dari keluarga tersebut. Gok menjadi semacam ekspresi kepedihan dari orang yang ditinggalkan.

Bahkan, di Korea dulu ada orang yang berprofesi sebagai orang yang bertugas menangisi jenazah. Orang tersebut disebut 곡쟁이(gokjengi). Gokjengi memang dibayar oleh keluarga kaya untuk meraung-raung menangisi orang yang meninggal. Dalam system masyarakat Korea jaman dulu, Gokjengi adalah kelompok yang paling rendah tingkatan kastanya. Informasi tentang Gokjengi ini tercantum dalam 세종실록 (Saejong Sillok) atau Catatan Harian Raja Sejong. Menurut Park Cheolgyu (2008) di dalam kolomnya yang ditulis di incheonilbo.com, pada saat upacara pemakaman raja pertama dari Dinasti Jeseon yang bernama Lee Seong-gye, raja Sejong melihat bahwa para Gokjengi sangat amatir dan suara raungannya terdengar kurang indah. Karena dianggap dapat memberi penilaian buruk terhadap kerajaan, raja Sejong kemudian menyiapkan Pendidikan Profesional bagi para Gokjengi agar dapat melakukan senandung ratapan dengan lebih baik. Para Gokjengi professional ini hanya tampil saat 국상(Guksang) atau perkabungan nasional. Meski profesi Gokjengi sekarang sudah tidak ada, tradisi untuk menangisi jenazah masih dapat terlihat di dalam prosesi kematian Korea. Terutama di pedesaan.

Dari berbagai persamaan di atas, dapat terlihat bagaimana Korea dan suku Batak memiliki banyak persamaan. Dengan sering melihat persamaan dan perbedaan antarbudaya, tentunya akan muncul sikap saling menghargai dan menghormati. Gannaway (2009) menegaskan bahwa tatanan moral global sebaiknya diletakkan pada asas kemanusiaan bersama, atau yang disebut dengan kosmopolitanisme. Semoga, ke depan tidak ada lagi yang merasa bangsanya lebih dari bangsa yang lain. Karena pada hakikatnya manusia sama, yang itu dapat terlihat dalam jejak budaya yang dihasilkannya.

Salam budaya,

Surel: [email protected]

IG: evalova33

Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Oji Ajeee
Oji
10 days ago

Lanjutkan 🙂✌