[HAI] Jeju dan Bali, Dua Pulau Hati

2

By Ibu Eva Latifah

Hai, Annyeonghaseyo pembaca Ten Indonesia!

Setahun sudah lewat dan kehidupan pun seolah tersumbat. Kemunculan pandemi mengubah cara manusia menjalani hidup. Selama setahun ini, ada yang bertahan dengan bersembunyi di dalam “ruang” kungkungan bernama PSBB. Ada yang menyesuaikan hidup dengan bernegosiasi pada kenyataan lewat kenormalan baru. Salah satu kebutuhan untuk menikmati perjalanan sebagai langkah mengatasi kepenatan, disiasati dengan perjalanan fisik yang mencerahkan psikis diganti dengan perjalanan virtual. Dengan capaian akhir yang sama yaitu, pikiran yang jernih dan terang. Idiom Korea yang mewakili situasi ini adalah 도(를) 닦다 -menjernihkan pikiran dan hati. Inti dari idiom ini adalah menjernihkan pikiran dan hati untuk mencari kebenaran moral atau agama.  도 (do) mempunyai banyak arti, di antaranya yang ingin saya sebutkan di sini adalah ‘moral’ atau ‘kebenaran agama’ dan juga ‘pulau’.

Kedua makna “do” inilah yang ingin saya tautkan dalam tulisan ini. Perjalanan ke ‘pulau’ untuk menjernihkan hati dalam mencari kebenaran ‘“moral’’. ‘Moral’ yang terkait pada moralitas masa kini yang berarti taat pada jarak fisik dan sosial. Sementara itu, “do” atau ‘pulau’ yang hendak kita kaitkan dalam tulisan ini adalah Jeju dan Bali. Saya akan memperkenalkan keterkaitan kedua makna itu, lewat tulisan ini.

Arti Nama Jeju dan Bali; Sama-sama ‘Agung’

늘 곁에 KT, KT그룹 블로그
Sumber: https://blog.kt.com/424

Dalam bahasa Korea, pulau disebut “do”. Oleh karena itu, pulau Jeju dalam bahasa Korea disebut Jejudo. Pulau ini awalnya bernama 탐라 (thamna) yang berarti 섬나라 (som-nara) atau negara kepulauan. Nama Thamna pertama kali tercatat dalam manuskrip kuno pada Abad VI sebagaimana yang terlampir dalam (visitjeju.net.) Thamna adalah sebuah negara maritim. Thamna kehilangan kemerdekaannya pada masa raja Sujong (1105). Namanya berubah menjadi Jeju yang berarti “Kota Besar di Seberang Lautan” pada masa kerajaan Gojong (1213-1259). 

Sejak masa Kerajaan Goryeo, Jeju digunakan sebagai tempat pengasingan. Semakin lama, semakin banyak pula orang yang diasingkan ke tempat itu. Ada yang dari kalangan keluarga kerajaan, pejabat, sasterawan, cendekiawan, penjahat, dan bahkan biksu. 

Sementara itu, nama Bali, ada yang menyebut Wali, Bali, dan Banten. Kesemuanya berarti “persembahan” (Bangli, 2005). Wiana dalam situs balisaja.com berpendapat bahwa Bali berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “kekuatan yang maha agung.” Lain lagi dengan para pelaut asing. Mereka memberi nama Java Minor, Balle, llha Bale, dan Baelle. Menariknya, Jeju dan Bali sama-sama mengandung makna “besar” atau “agung.” 

Bulan Madu Pilih Jeju atau Bali?

발리허니문스냅 “올댓발리” | 발리 세인트레지스 리조트 예약센터
Sumber: https://worldresortservice.wordpress.com/2014/08/31/%EB%B0%9C%EB%A6%AC%ED%97%88%EB%8B%88%EB%AC%B8%EC%8A%A4%EB%83%85-%EC%98%AC%EB%8C%93%EB%B0%9C%EB%A6%AC/

Ketenaran Bali sudah ada sejak dulu kala. Wisatawan asing pertama yang mencatatkan nama Bali sebagai tempat yang unik adalah Cornelis de Houtman. Kunjungannya tercatat pada tahun 1589. Sampai sekarang, Bali terus menjadi tempat wisata menarik. Tidak mengherankan bila banyak julukan ditujukan pada pulau indah ini. Sebut saja Pulau Dewata (the Island of God), Pulau Seribu Pura, sampai Pulau Cinta.

Jeju dan Bali merupakan salah satu alternatif tempat wisata bagi orang Korea, khususnya saat bulan madu. Song (2016) dalam nocutnews.co.kr menyebutkan bahwa pada tahun 1980an akhir, Jeju masih menjadi tempat favorit untuk pasangan yang baru menikah. Tetapi sejak wisata ke luar negeri dibebaskan, orang Korea mulai melirik tempat wisata luar negeri. Tahun 90an awal, tempat yang menjadi favorit orang Korea adalah Bangkok dan Pattaya (Thailand), tahun 1993an ke Guam dan Saipan, tahun 1994 umumnya ke Bintan (Indonesia). Ternyata, Bintan lebih dulu dikenal orang Korea daripada Bali. Bali baru menjadi target wisata untuk bulan madu pasangan Korea pada awal tahun 2000an. Beberapa orang Korea pada masa itu bahkan tidak tahu kalau Bali adalah bagian dari negara Indonesia. 

Pulau Wisata Kebanggaan Negara

월간중앙 - 중앙시사매거진
Sumber: https://jmagazine.joins.com/monthly/view/318973

Sama-sama menyandang pulau pariwisata, Jeju dan Bali menunjukkan geliat tersendiri. Bali, sudah menyihir pelancong asing bahkan lebih dulu dari wisatawan dalam negeri. Peran Presiden Soekarno juga sangat besar dalam memperkenalkan Bali kepada wisatawan asing, khususnya tamu kenegaraan. Itulah yang menjadi sebab didirikannya istana Tampak Siring pada tahun 1957. Di antara tamu yang pernah datang adalah Jawaharlal Nehru dan John F Kennedy.

Pada sisi lain, Jejudo justru lebih dulu dikenal wisatawan lokal. Popularitas Jeju di kalangan wisatawan asing tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya popularitas budaya pop Korea, Hallyu. Drama yang menyumbang peranan penting dalam mempromosikan pulau Jeju adalah drama Secret Garden, Heartstrings, Orange Marmalade, hingga yang terbaru Love Alarm.

좋아하면 울리는 제주도 촬영지 : 네이버 블로그
Sumber: https://m.blog.naver.com/xxx09xxx/221631475720

Drakor mempunyai peran yang sangat signifikan dalam mempengaruhi popularitas dua pulau ini. Drakor membawa Jeju mendunia dan menjadi salah satu pulau yang menjadi destinasi wisata. Pada saat yang sama, Drakor juga membuat popularitas pulau Bali di negara Korea meningkat. Drama Something Happened in Bali dan First Love of a Royal Prince melakukan syuting di Pulau Dewata ini. Selain drakor, variety show We Got Married dan Twogether juga tercatat menjadikan Bali sebagai tempat syuting salah satu episodenya. Semua ini tak ayal membuat masyarakat Korea tertarik untuk berkunjung ke Bali. Artis terkenal Korea seperti Rain dan Kim Tae Hee juga menghabiskan masa bulan madu mereka di sini. Ini menjadi bukti bahwa meski baru dikenal belakangan di kalangan orang Korea, Bali menjadi salah satu target wisata mereka.

Dapat dikatakan bahwa kecenderungan peningkatan popularitas Jeju dipengaruhi oleh Hallyu, khususnya drama. Selain itu, Jeju juga menerapkan bebas VISA sebagai upaya untuk menarik wisatawan asing. Asalkan penerbangan langsung menuju ke Bandara Internasional. Satu langkah jitu dalam promosi wisata, pemanfaatan produk budaya populer dan pemudahan akses. Dua cara yang mendongkrak Jeju dalam persaingan wisata pulau, mensejajarkannya dengan pulau lain yang lebih dulu popular seperti Hawai, Bali, Pattaya, dsb.

Persamaan Jejudo dan Bali

Keadaan Alam

Selain soal wisata, kita dapat menemukan kesamaan Jeju dan Bali. Persamaan pertama adalah alam dan pemandangan yang indah. Bali memiliki pantai pasir putih, danau, hutan lindung, sungai dan hamparan sawah yang luas. Pulau Jeju pun menawarkan keindahan alam berupa air terjun, goa, taman, bebatuan unik yang menyerupai bentuk tertentu. Cuaca di sana relatif lebih hangat dibanding Semenanjung Korea. Tidak mengherankan bila tanaman subtropis juga tumbuh di Jeju. 

Kondisi alam yang mencirikan Jeju salah satunya adalah adanya gunung. Jeju memiliki gunung bernama Halla dan Sanbang. Halla dijadikan destinasi wisata dan bahkan menjadi nama untuk banyak produk oleh-oleh khas Jeju, seperti cokelat beragam rasa. Gunung Halla dapat dikatakan unik karena merupakan salah satu gunung api yang pernah aktif di Korea Selatan. Malah, pendapat terkini ada yang menyatakan bahwa sangat dimungkinkan Halla dapat aktif kembali. Walau tidak sepopuler Halla, gunung Sanbang juga menawarkan pemandangan yang tidak kalah indah. Sesuai namanya, kita akan dapat menemukan “gua di dalam gunung.” Gunung ini terbentuk oleh aktivitas gunung berapi. 

Kita juga akan banyak menemukan batu-batu di pulau Jeju. Oleh karena itu, Jeju juga disebut dengan 삼다도 (samdado) atau pulau dengan tiga hal, yaitu angin, batu, dan perempuan. Kencangnya angin di Jeju disebabkan oleh posisinya yang dikelilingi laut. Selain itu, Jeju juga disebut sebagai  jalan yang dilalui angin topan. Tidak mengherankan bila angin banyak ditemukan di sini. 

Banyaknya batu di pulau Jeju, tidak lepas dari keberadaan Halla. Gunung Halla yang dulunya aktif sering memuntahkan batu-batu akibat aktivitasnya sebagai gunung api. Hasil muntahan dari Halla itulah yang dapat ditemukan melalui banyaknya batu di pulau ini. Batu yang paling terkenal adalah batu berbentuk kepala naga bernama batu Yongduam. 

Sementara itu, besarnya jumlah perempuan di Jeju terjadi karena kebanyakan laki-laki pulau Jeju harus berlayar mencari nafkah. Ada banyak yang tidak dapat kembali lagi dengan selamat. Itulah mengapa lebih banyak perempuan di Jeju dibanding laki-laki.

Kearifan Lokal Dua Pulau

Membahas dua pulau terkenal ini tidak lengkap tanpa membahas kekhasan budayanya.  Jeju dan Bali memiliki budaya yang membedakan kedua pulau itu dari budaya dominan di negara masing-masing. 

Bali adalah pulau dengan tradisi yang kaya. Umumnya tradisi di Bali dipengaruhi oleh agama Hindu yang dianut oleh sebagian besar orang Bali. Dalam tradisi terhadap jasad, contohnya, ada upacara Ngaben dan pemakaman khas Desa Trunyan Kintamani. Bali juga punya tradisi Mebuug-Buugan di Kedongan yang mirip dengan Festival Lumpur Boryeong, Korsel. Makna dari Mebuug-Buugan adalah pembersihan diri dari pengaruh negatif. Sementara itu, festival lumpur di Boryeong lebih pada kemeriahan dan kepercayaan pada manfaat lumpur bagi kesehatan kulit. Masih banyak lagi tradisi Bali yang tidak dapat dibahas semua di sini. 

Masyarakat Bali dan Jeju sama-sama menggunakan lagu dan tarian dalam ritual mereka. Lagu rakyat pulau Jeju ini menggambarkan kekhasan masyarakat dan budaya yang dipengaruhi oleh kondisi alam dan geografis. Kebanyakan lagu rakyat Jeju bernuansa gelap. Hal ini dipengaruhi oleh sejarah gelap pulau ini yang mendapatkan diskriminasi dari pemerintah pusat. Hebatnya, lagu rakyat Jeju mempunyai motif mengatasi kepedihan dan bangkit dari penderitaan. Di Pulau Jeju, kita juga dapat melihat kehidupan tradisional di kampung Seongeup. Kampung ini masih mempertahankan gaya hidup khas rakyat Jeju.

Kearifan lokal Pulau Jeju dan Bali mengandung unsur harmoni dengan alam. Upacara Tumpek Uduh, Upacara Nyepi, atau Subak adalah sebagian contoh dari kedekatan budaya Bali dengan alam. Di Jeju, kita akan menemukan pagar batu yang mengelilingi rumah, tanah pertanian, benteng di sepanjang garis pantai, peternakan, dsb. Pagar batu berfungsi untuk menahan angin kencang yang sering melanda Jeju. Masyarakat Jeju juga mempunyai sistem sanitasi yang unik, 돗통시Dottongsi. Dottongsi adalah toilet yang bagian bawahnya dilapisi jerami yang biasanya terhubung dengan kandang babi. Babi ini akan memakan kotoran dan juga sisa makanan. Kotoran babi yang dihasilkan kemudian dipakai untuk pupuk kandang.

Perempuan Kuat

Menjadi Perempuan Bali itu, Berat - Mooi Dia Widy's
Sumber: https://4.bp.blogspot.com/-XyvjAF56ZV4/XC9C8k5txwI/AAAAAAAACRc/8NOWiodOfeY21k0TIiHLe-78TKwtHJIbgCEwYBhgL/s1600/Upacara-Adat-Bali-Ini-Menambah-Pesona-Pulau-Dewata-714×450.jpg

Satu ciri yang sering disematkan pada Jeju dan Bali adalah kaum perempuannya yang kuat. Perempuan di dua pulau ini menunjukkan kedigdayaannya dengan menepis asumsi bahwa perempuan lemah. Perempuan Jeju dan Bali dibentuk oleh budaya dan lingkungan untuk menjadi tangguh. Alam yang keras dari pulau Jeju menempa perempuan untuk bekerja keras. Sedikitnya jumlah laki-laki akibat musibah atau kecelakaan di laut, membuat perempuan juga harus turun tangan mencari penghidupan. Ketangguhan perempuan Jeju direpresentasikan dengan  해녀 (haenyeo). Hae artinya ‘laut’ dan nyeo artinya ‘perempuan’. Haenyeo adalah sebutan bagi para perempuan yang mencari nafkah dengan menyelam ke dalam laut untuk mengambil kerang, rumput laut, sotong, dan hasil laut lain dari sela-sela bebatuan. Para haenyeo ini, ternyata juga masih bekerja di ladang dan mengurus rumah tangga. 

Pentingnya posisi perempuan di masyarakat Jeju membuat budaya Jeju agak berbeda dengan budaya Korea pada umumnya yang lebih mengutamakan anak laki-laki. Di Jeju, orang tua akan lebih senang bila mempunyai anak perempuan. Perempuan Jeju juga menunjukkan kekuatannya dengan melakukan Gerakan Anti Penjajahan Jepang. Gerakan perlawanan terhadap Jepang berlangsung cukup lama di pulau ini, dari 1918 sampai 1932. Jumlah anggota pergerakan yang mencapai 17.000 orang perempuan membuat gerakan perempuan ini masuk ke dalam Gerakan perempuan terbesar dalam sejarah kolonial Jepang di Korea. 

인류무형유산 제주해녀, 국내 넘어 해외로 < 문화일반 < 문화 < 기사본문 - 제주도민일보
Sumber: https://www.jejudomin.co.kr/news/articleView.html?idxno=105152

Kekuatan perempuan yang ditemukan dalam budaya Bali banyak dipengaruhi oleh tradisi, khususnya dalam persiapan upacara keagamaan. Perempuan Bali menjadi kunci dalam penyiapan upacara keagamaan di sana. Kita dengan sangat mudah melihat wanita Bali yang membawa barang berat dengan meletakkannya di kepala. Disebutkan bahwa perempuan Bali memegang tiga peran perempuan sekaligus, yaitu peran di keluarga, peran ekonomi, dan adat keagamaan (balipost.com, 2019). Di aat sektor pariwisata terpuruk akibat wabah Covid-19, perempuan Bali tidak kehabisan akal dalam mencari pemasukan untuk menopang kebutuhan keluarga. Ketangguhan perempuan Bali kembali dapat dilihat dalam perannya yang bertambah untuk mengajarkan anak sekolah di rumah, di luar dari tugas domestik, kantor, dan keagamaan yang tetap melekat pada perempuan.

Berkelana ke Jeju dan Bali memberikan satu keyakinan bahwa kedua pulau lebih dari sekedar tempat wisata yang indah. Keragaman budaya dan kearifan lokal yang terus dijaga juga menyiratkan satu semangat bahwa kedua budaya merupakan hasil proses yang panjang. Komunikasi dengan alam menjadi kunci kebertahanan budaya di kedua pulau tersebut. Dalam proses itu, perempuan merupakan tonggak yang tidak tergoyahkan dan tegak sampai sekarang. Selama tradisi ada, perempuan menyisipkan kekuatannya.

Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Yuyun Andriadi
Yuyun Andriadi
15 days ago

Masukan informasi yang berkualitas 👍

Oji Ajeee
Alex
14 days ago

Join j 🙂👌